Suara di seberang HP mulai terisak.
“Itu adalah uang pinjaman, Pak…”
Sebelumnya, ketika dia menyebut nama institusi yang dia percaya sebagai lembaga investasi, saya langsung membuka laptop, googling. Nama yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Asing. Tidak tercantum alamat. Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa lembaga tersebut memiliki izin dan di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Saya ditawari melalui akun IG, Pak.”
Dia, saya kenal belasan tahun lalu, di desa, di kaki gunung. Merintis bisnisnya, tahun demi tahun, bata demi bata, hingga punya kantor kecil dan bisa mempekerjakan tetangga-tetangganya. Uang yang “diinvestasikan”, yang sebenarnya dia siapkan untuk membayar THR karyawan bulan depan. Termasuk uang tabungan masa depan anak-anaknya.
“Saya diminta harus menambah uang, lima puluh sembilan juta, supaya uang saya yang tertanam bisa dicairkan.”
Dikatakannya, ada istilah “pelanggaran” yang harus dibayarnya, istilah “isi ulang”, ada akun tugas “untuk mendapatkan penghasilan 1 juta setiap hari”, ada mentor guru. Entah “bisnis” atau penipuan model apa lagi, saya sungguh tidak tertarik untuk menanyakan detailnya, “Jangan setorkan lagi. Baiknya besok datangi saja kantornya.” “Money game” model apa lagi sih ini? Saya terlalu kudet, anak-yesterday, yang hanya mengerti soal investasi saham, hanya itu.
“Fix tipu, Pak.”
Kiriman foto bangunan tertutup rapat, dengan rolling door berwarna hijau, sesuai alamat kantor yang diinfokan oleh operatornya. Dan selanjutnya, tidak lagi ada balasan WA dari sang operator, tidak lagi ada jawaban telepon dari sang mentor guru.
Saya geram dan sedih.
NH